UNWTO Tegaskan Budaya-Pariwisata Bersinergi

Penelitian Pariwisata | RIPPDA | NESPARDA | Statistik Pariwisata -Sidang dewan eksekutif organisasi tertinggi dunia di bidang pariwisata (UNWTO) ke-99 sepakat menegaskan antara budaya dan pariwisata saling bersinergi dan tidak bertentangan. Keduanya unwtosama-sama berperan dalam meningkatkan daya saing global destinasi wisata suatu negara. “Keduanya seperti sebuah koin dengan dua sisi berbeda. Anggota UNWTO sepakat mendorong keduanya agar lebih ditingkatkan dengan memaksimalkan peran pemerintah dan sektor industri bidang pariwisata,” kata Sekjen UNWTO Taleb Rifai kepada pers seusai penutupan Sidang Dewan Eksekutif UNWTO ke-99, di Samarkand, Uzbekistan, seperti dikutip Minggu (5/10/2014). Taleb turut didampingi Ketua Sidang Dewan Eksekutif UNWTO ke-99 Sapta Nirwandar.
Menurut Taleb, budaya suatu negara bakal memberikan sesuatu yang unik pada sektor pariwisata. Sebab, hal itu tidak hanya bisa menjadi magnet untuk menarik wisatawan, tapi juga memberikan sisi lain tentang asal-muasal suatu negara dan kehidupan masyarakat negara tersebut.

“Tinggal bagaimana para anggota UNWTO ini mengemas produk budaya dan wisata itu menjadi sesuatu yang berbeda dari negara anggota UNWTO yang lainnya,” tukas Taleb seperti dilaporkan oleh wartawan Media Indonesia Sidik Pramono dari Samarkand, Uzbekistan.

Sapta Nirwandar menjelaskan, agar para anggota UNWTO mampu mengembangkan warisan budaya dan pariwisata menjadi sesuatu daya tarik bagi wisatawan antara lain bisa dilakukan melalui penerapan teknologi modern dan informasi yang jelas terkait dengan destinasi pariwisata itu sendiri.

“Ini tak lepas dari masalah yang masih dihadapi negara-negara anggota UNWTO yakni bagaimana mengembangkan serta memanfaatkan budaya jadi daya tarik bagi wisatawan,” ucap Sapta yang juga Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI tersebut.

Salah satu delegasi Indonesia yakni, Kepala Biro Kerjasama Luar Negeri Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Noviendi Makalam menambahkan sikap UNWTO tersebut menegaskan, bahwa pariwisata tidak merusak budaya ataupun mengkomersialisasikan budaya suatu negara/bangsa.

”Sebaliknya, kontent budaya itu mementingkan autentikasi suatu bangsa. Dapat dibayangkan jika suatu negara tidak punya produk budaya berbeda dengan negara lain. Budaya suatu negara justru memberikan warna sendiri pada destinasi pariwisata negara bersangkutan,” pungkas Noviendi.

Pada sidang UNWTO ke-99 yang berlangsung 1-3 Oktober dan dihadiri oleh sekitar 120 delegasi dari 32 negara dewan eksekutif itu, menurut Taleb, juga dihasilkan 20 keputusan.

Di antaranya, ditolaknya resolusi Azerbaijan mengenai larangan promosi wisata pada daerah konflik sehingga perlu diajukan ulang kepada Komite Etik UNWTO pada November mendatang. Kemudian, penerimaan anggota UNWTO baru yakni Samoa, sehingga jumlah anggota tetap UNWTO jadi 157 negara.

Berikutnya, pembuatan proyeksi program dan budget prioritas 2014-2016 yang mempertimbangkan kuesioner, dan dalam waktu dekat akan disebarkan kepada 157 anggota tetap UNWTO.

UNWTO juga mengimbau para anggotanya untuk meramaikan Hari Pariwisata Sedunia setiap 27 September, seperti pada tahun ini yang dilakukan di Guadalajara, Meksiko, dan beberapa anggota negara UNWTO lainnya.

Sebagai tindak lanjut pembahasan mengenai wisata dan budaya, delegasi UNWTO juga diimbau mengikuti International Cultural Heritage Forum di Kamboja pada Februari 2015.

Terakhir, delegasi Jamaika yakni Jennifer Griffith, ditunjuk menjadi Ketua Sidang Dewan Eksekutif UNWTO ke-100 yang akan berlangsung pada Mei 2015 di Kroasia. Jennifer nantinya dibantu dua wakil ketua sidang dari Mozambik dan Kroasia. (Sidik Pramono)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *