RIPPDA/RIPARDA-FGD Program Kepariwisataan 2014

asyarakat dan para pelaku pariwisata di DIY menaruh harapan besar pada Perda pariwisata DIY  nomor 1 Tahun 2012 agar secepatnya bisa dimpelemntasikan ke tengah masyarakat  sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan. Upaya ini harus terus di dorong semua lapisan masyarakat termasuk lintas Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di DIY  sehingga peraturan yang sudah diakomodir dalam Perda terserbut cepat terealisir. Harapan itu disampaikan Kepala Dinas Pariwisata DIY Tazbir Abdulah, SH.MHum saat memberikan sambutan kepada para peserta Fokus Grup Discusion (FGD) Perencanaan Program /Kegiatan Dinas Pariwisata DIY 2014 yang berlangsung di Aula Sapta Pesona  Kantor Dinas Pariwisata DIY Jalan Malioboro 56 hari ini.Ditambahkan, pembangunan pariwisata di DIY selama ini telah memberi kesejahteraan pada masyarakat. Data menujukkan Produk Domestik Ratio Bruto (PDRB) DIY tertinggi disumbangkan sektor pariwisata.

“Peran masyarakat dan swasta dalam menggerakkan pembangunan pariwisata di DIY akan terus dipacu dan didorong terus sehingga sektor pariwisata menjadi kegiatan  yang mandiri sekaligus berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat,” ungkap Tazbir.

Beberapa pembicara tampil dalam FGD tersebut  antara lain : Achmad Samiyanto, SE,MSi (ketua Pansus Ripparda DIY, Anggota Komisi B DPRD DIY),  Drs. Bhiworo  Yuswantana, MSi (Kepala Bidang Perekonomian Bappeda DIY) dan Ike Janita Dewi , SE,MBA  Phd Dosen Universitas Sanata Dharma, Jogjakarta dengan moderator Kepala Dinas Pariwisata DIY Tazbir ,SH.MHum.

Achmad Samiyanto menyoroti pentingnya pengelolaan desa wisata yang mandiri dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat lokal. Desa Wisata di DIY harus memiliki keunggulan budaya lokal di banding beberapa desa wisata lain di Indonesia sehingga wisatawan yang datang akan menikmati nuansa khas lokal Jogja maupun desa wisata setempat.

“Atraksi , aksesibilitas dan manajemen pengelola harus didukung lingkungan yang nyaman sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan atau long of stay (LOS) berwisata di desa wisata .

LOS di DIY  saat ini  berkisar 1,7 hari sehingga lama tinggal wisatawan ini perlu ditingkatkan lagi. Apalagi capaian  jumlah wisatawan DIY juga harus meningkat .

Sementara Ike Janita Dewi  mengkaji perlunya   Pemda DIY dalam hal ini Dinas Pariwisata DIY untuk membentuk zonasi peotensi peta wisata yang terbagi dalam lima kluster.  Pertama, kawasan Malioboro (kota), Kedua, kawasan Kaliurang dan Gunung Merapi, Ketiga, Kawasan Depok dan Parangtritis, Keempat kawasan Karst Gunungkidul dan kelima Kawasan Sermo -Menoreh.

“Kelima kawasan ini harus dipetakan menjadi sebuah kawasan unggulan pariwisata DIY di masa mendatang.  Zonasi ini sekaligus akan memudahkan pendanaan dan pengelolaan  kawasan di kemudian hari,” ungkap Ike Janita Dewi.

Ditambahkan, penyebaran wisatawan ke Jogjakarta sudah saatnya dilakukan sehingga wisatawan tidak menumpuk di Malioboro. Saat ini kalau liburan panjang, pilihan wisatawan hanya Malioboro sehingga  destinasi wisata lain di DIY tidak kebagian wisatawan.

“Dengan menggarap  lima kawasan unggulan tadi ke depan pariwisata DIY akan memiliki daya saing sekaligus pilihan baru bagi wisatawan.  Karena dengan keadaan yang sekarang ini dalam lima sepuluh tahun ke depan pariwisata DIY akan ditinggalkan oleh wisatawan. Karena tidak ada yang baru untuk dinikmati,”   tambah Ike Janita Dewi.

FGD  sehari tersebut antara lain diikuti peserta : Kabupaten/Kota, para pelaku  pariwisata, Asita, PHRI, HPI  dan intansi terkait lainya.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *