Pengembangan Pariwisata Solo Dinilai Semrawut

Pengembangan pariwisata di Surakarta selama ini dinilai semrawut dan tanpa arahan. Sebab, memang tidak ada panduan yang menjadi pegangan pemangku kepentingan untuk mengembangkan pariwisata. Kepala Bidang Promosi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surakarta Budi Sartono mengakui selama ini tidak pernah memiliki acuan yang jelas untuk mengembangkan industri pariwisata. Akibatnya, arah pengembangan tidak punya tujuan, tidak efektif, tidak efisien, dan pada akhirnya lokasi wisata sulit menarik wisatawan. “Kami baru berpikir membuat rencana induk kepariwisataan dua tahun lalu,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu, 5 Maret 2014. Sepanjang 2013, dia menyerap masukan dari pemangku kepentingan pariwisata. Lalu, mulai awal 2014, dia menyusun naskah akademik, sebelum disambung rancangan peraturan daerah.

Pada awal 2015, Rancangan Peraturan Daerah tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kota Surakarta akan dibahas di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Surakarta. “Rencana induk itu untuk pengembangan pada 2015- 2025,” katanya.

Salah satu poin penting dalam rencana induk adalah ada zonasi pendirian hotel. Misalnya, hotel yang berdiri di pusat kota harus punya ciri khusus, seperti hotel butik. “Hotel tersebut menjadi perwajahan kota,” ujarnya.

Poin pembahasan lainnya adalah pengembangan destinasi wisata berdasarkan visi-misi Surakarta sebagai kota budaya. “Budaya menjadi penggerak pariwisata di Surakarta,” katanya.

Dia mengatakan rencana induk bersifat umum dan tidak membicarakan hal teknis seperti target kunjungan wisata. Menurut dia, yang terpenting ada pegangan bagi dinas terkait agar pengembangan pariwisata pada masa mendatang menjadi terarah.

Ketua Badan Promosi Pariwisata Indonesia Surakarta Hidayatullah Al Banjari meminta rencana induk memperhatikan beberapa hal seperti aksesibilitas dan atraksi. Dalam soal aksesibilitas, rencana ini harus memberi perhatian serius pada infrastruktur, konektivitas destinasi wisata di eks Karesidenan Surakarta, dan penataan pintu masuk kota.

“Untuk atraksi, harus mengontrol kualitas acara. Kemudian pengembangan kota berdasarkan potensi, misalnya mau jadi kota kuliner atau kota belanja,” ucapnya. Dia juga meminta pembukaan ruang pariwisata baru untuk lebih menarik wisatawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *