Peluang Pariwisata Terabaikan

Penelitian Konsultan Pariwisata- Danang (52), warga Sleman, DI Yogyakarta, memesan kamar hotel Kartika di Larantuka sejak Februari 2014 untuk menghadiri perayaan prosesi Jumat Agung atau Semana Santa, tujuh hari suci. Kehadiran 20.000 peziarah di kota kecil itu membuat 17 hotel di kota itu dengan 752 kamar penuh sesak. Sugiarto khawatir tidak kebagian kamar hotel. Pemilik warung makan Cita Rasa, Sleman, ini mengaku sudah tiga kali mengikuti prosesi Jumat Agung di Larantuka. Tahun 2010, ia tak kebagian kamar hotel sehingga menginap di rumah warga.

”Menginap di rumah penduduk pun baik, tetapi kita tidak leluasa. Kehadiran kita di Larantuka untuk kegiatan rohani. Jangan sampai pikiran dan perasaan kita terganggu. Memang orangnya baik-baik. Hanya, mereka juga banyak anggota keluarga yang datang dari mana-mana sehingga rumah itu terlalu banyak tamu,” kata Sugiarto, di Larantuka, Kamis (18/4/2014).

Karena itu, sejak tahun 2011, 2013, dan 2014 ia memesan kamar hotel jauh-jauh hari. Ia juga membayar uang muka sebagai tanda jadi. Kali ini, dia datang bersama tujuh anggota keluarga.

Hotel dan penginapan di Larantuka pun mendadak menaikkan tarif dari Rp 75.000-Rp 100.000 per malam menjadi Rp 300.000-Rp 500.000 per malam. Fasilitas kamar hotel itu hanya tempat tidur dan kamar mandi, tidak ada televisi dan AC.

Dalam acara seperti ini, biasanya minimal 20.000 peziarah datang ke Larantuka. Setiap orang bisa mengeluarkan biaya sekitar Rp 200.000 per hari, tidak termasuk biaya penginapan dan sewa kendaraan (mobil) bepergian ke sejumlah tempat.

Namun, peluang ini belum dimanfaatkan pemda dan pelaku usaha di Flores Timur. Dalam empat kali kunjungannya ke Larantuka, Sugiarto belum melihat perubahan, terutama wisata kuliner dan cendera mata. Para peziarah kesulitan mencari makanan, buah-buahan, dan kudapan di kota itu. Hanya ada warung makan yang hadir sejak puluhan tahun di depan pelabuhan.

”Sulit mencari makanan segar, seperti bakso, warung ikan bakar, dan minuman ringan. Ada makanan khas daerah ini, yakni jagung titi, tetapi harus disuguhkan di warung kopi,” katanya.

Selama berada di Larantuka, peziarah ingin mengunjungi pusat-pusat peninggalan Portugal di Wure (Pulau Adonara) berupa gereja tua dan benda-benda rohani lain serta Lohayong (Pulau Solor), yakni benteng Portugis, tetapi tidak ada bus laut khusus. Para tamu mencari kendaraan laut sendiri untuk menjangkau pulau-pulau itu. Dua pulau ini masing-masing berjarak sekitar 8 kilometer dan 16 kilometer dari Larantuka.

Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Flores Timur, Ande Kedang mengakui, jumlah wisatawan religius setiap tahun cenderung meningkat. Tahun 2010 hanya sekitar 10.000 orang, tahun 2013 sudah mencapai 20.000 peziarah. Tahun ini masih sekitar 20.000 orang.

Mereka berasal dari wilayah lain di Pulau Flores, Timor, dan Sumba. Selain itu, peziarah juga datang dari Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, bahkan dari Timor Leste. Keterbatasan tempat makan membuat sebagian peziarah menyewa rumah makan tertentu selama berada di kota itu.

”Tamu yang datang selama ziarah rohani 2014 ada Duta Besar Portugal untuk Indonesia, Dirjen Bimas Katolik Kementerian Agama, serta perwakilan Kementerian Pertahanan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Kementerian Dalam Negeri. Di samping Gubernur NTT dan para bupati sedaratan Flores,” kata Kedang.

Kota Larantuka dengan jumlah penduduk sekitar 243.000 jiwa, terbentang sepanjang lereng Gunung Ile Mandiri (1.720 mdpl), memiliki tiga kecamatan, terletak di Pantai Selatan ujung timur Pulau Flores. Kota ini berhadapan dengan Pulau Adonara dan Pulau Solor.

Sebuah pemandangan paling eksotik ketika berada di Pantai Tobilota, Pulau Adonara, di atas ketinggian sekitar 700 mdpl kemudian memandang Gunung Ile Mandiri dengan kota Larantuka dibawa kaki gunung itu. Lokasi itu sangat cocok dibangun perhotelan dan tempat peristirahatan. Selat Larantuka itu hanya ditempuh 15 menit perjalanan kapal motor dari Larantuka ke Tobilota.

Joseph de Ornay, karyawan Hotel Kartika Larantuka, mengatakan, setiap Semana Santa tiba, semua pemilik hotel dan penginapan di Larantuka terpaksa menaikkan tarif hotel. Kenaikan itu sesuai hukum pasar.

”Meski sudah naik, permintaan masih tinggi. Kami kewalahan dan merasa kasihan kalau tamu datang jauh-jauh tengah malam, cari kamar, dan kami hanya menjawab kamar hotel sudah penuh. Lalu, mereka berdiri di depan hotel dalam kebingungan. Kami hanya mengarahkan ke hotel ini dan itu, tetapi di tempat itu pun sudah penuh,” kata Ornay.

Maria Guterres (49), peziarah asal Timor Leste, menilai, selain keterbatasan penginapan, pelayanan juga masih minim. Ketika dia menginap di Hotel Fortuna Larantuka, air tak mengalir karena pipa yang dibaluti ban dalam bekas tersebut terlepas sehingga air tidak mengalir ke dalam kamar. Setelah dilaporkan, baru diperbaiki pengelola hotel.

Sebagai kota religius sekaligus pariwisata, tata cara menyambut tamu yang datang berziarah pun harus lebih sopan dan ramah daripada di tempat lain. Kesopanan itu tidak hanya terjadi di lobi hotel, tetapi juga sejak tamu, calon peziarah, turun dari bandara, pelabuhan, atau kendaraan.

”Saya tidak suka ketika turun di pelabuhan, barang-barang penumpang diperebutkan kondektur atau tukang ojek. Satu tas di tangan kondektur A, tas lain di tangan kondektur B, dan tas lain di kondektur C. Lalu, mereka saling mengklaim sebagai calon penumpangnya kemudian mereka saling berebutan penumpang,” ujar Guterres.

Sekretaris Daerah Flores Timur Anton Tonce mengakui segala kekurangan itu. ”Kami harus membenahi sarana dan prasarana penunjang pariwisata. Pemkab terus berupaya agar peziarah mendapatkan kepuasan selama di kota itu,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *