Pariwisata Merosot Di Thailand

Penelitian Pariwisata | RIPPDA| DED-Pada Kamis (22/5), militer Thailand resmi mengumumkan kudeta terhadap pemerintah. Imbasnya, kondisi politik di Thailand yang sudah karut-marut semakin tidak menentu. Pendapatan sejumlah perusahaan dan sektor pariwisata menurun. Dunia pun mengecam keputusan tersebut. Salah satu perusahaan yang langsung terkena imbas kudeta militer Thailand adalah Honda Motor. Perusahaan berbasis di Jepang itu memiliki anak cabang di Thailand untuk produksi. Namun, sejak kerusuhan di Negeri Gajah Putih terus berlangsung, mereka terpaksa mengurangi produksinya hingga 60 persen. Honda, Toyota, dan beberapa perusahaan lainnya harus mematuhi aturan jam malam dari junta militer yang berkuasa. Pabrik-pabrik ikut ditutup saat malam.

Imbas serupa terjadi di sektor pariwisata. Jumlah wisatawan di Thailand terus merosot. Turunnya jumlah pengunjung tersebut dimulai sejak negeri itu terus-menerus dilanda demonstrasi masal beberapa bulan lalu. Jumlah wisatawan kian turun ketika militer berkuasa.

Meski begitu, masih ada saja wisatawan asing yang mendatangi Bangkok dan beberapa wilayah lainnya. Thailand selama ini memang dikenal sebagai lokasi belanja murah untuk barang-barang berkualitas. Para turis sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan banyaknya tentara di berbagai titik. Mereka hanya berkeberatan dengan jam malam yang diberlakukan. Semua warga Thailand, turis, dan para pekerja harus sudah berada di rumah atau hotel masing-masing pada pukul 22.00–05.00. Karena itulah, sejak pukul 21.00, kondisi jalanan sepi. Ketika malam, Thailand bagai kota hantu. Bar-bar hotel dipenuhi pengunjung. Sebab, mereka tidak bisa pergi ke mana-mana saat malam.

’’Kami pergi ke Khao San dan berpikir bahwa itu akan menjadi malam yang menyenangkan. Malam yang kami lalui sedikit singkat (karena jam malam), tapi suasananya masih bagus,’’ ujar Angela, 24, salah seorang turis dari Skotlandia. Sejak militer berkuasa, beberapa negara mulai meminta warganya waspada ketika mengunjungi Thailand. Namun, menurut ++Angela, suasana di Thailand hampir sama dengan biasanya. Hanya ada tambahan tentara di mana-mana. Sikap para tentara itu cukup ramah. Bahkan, jika ada turis yang ingin berfoto bersama, mereka melayani. ’’Kami tidak merasa terancam karena kami tahu kami bukan target mereka,’’ ujar Maayan Sher, mahasiswa asal Israel yang berkunjung ke Thailand.

Namun, para turis tetap saja mengeluhkan pengambilalihan kekuasaan oleh militer Thailand. Sebab, mereka tidak bisa menikmati waktu seperti biasanya karena banyak lokasi yang tutup. Berdasar data pemerintah Thailand, kedatangan turis pada kuartal pertama tahun ini turun 5 persen.

Sebagai contoh, jumlah kedatangan turis dari Tiongkok daratan turun 18 persen, Hongkong (turun 42 persen), dan Jepang (turun 20 persen). Perekonomian Thailand pada triwulan pertama juga turun 0,6 persen lantaran menurunnya jumlah wisatawan tersebut.

Di sisi lain, warga Thailand mengeluhkan tindakan militer yang memberlakukan jam malam. Mereka terpaksa tinggal di rumah. Tetapi, seluruh saluran televisi tidak tayang seperti biasa. Yang ada hanyalah lagu-lagu kebangsaan dan pengumuman dari militer. Sejak kudeta, militer juga mengambil alih seluruh media. Baik radio, koran, maupun televisi.

’’Saya lapar, tapi saya hanya punya mi instan di rumah. Di televisi, tidak ada acara apa-apa. Jika militer ingin kami berada di rumah (saat malam hari), setidaknya mereka membiarkan kami menonton televisi,’’ tutur Thanakan Chalaemprasead, 21, yang bekerja sebagai mekanik.

Kini warga Thailand terbelah menjadi dua. Yaitu, yang setuju dengan kudeta dan tidak setuju. Orang-orang yang setuju berpikir bahwa kudeta mungkin bisa memperpendek rentang waktu kepemimpinan yang kosong dan tidak tentu selama ini. Termasuk meniadakan aksi massa yang telah merenggut 28 nyawa orang tidak berdosa. Namun, yang tidak setuju merasa bahwa militer telah berbuat semau sendiri.

’’Pada awalnya, saya pikir kudeta adalah ide buruk. Tapi, sekarang saya pikir kudeta mungkin bagus karena bisa menghentikan pertarungan (antara pemerintah dan oposisi, Red),’’ jelas Vichit Kriyasaun, 27.

Namun, hal berbeda diungkapkan Wanit, salah seorang sopir taksi. ’’Penerapan jam malam ini tidak bagus. Kami jadi tidak punya pelanggan, turis ketakutan,’’ ucap pria yang berusia 50 tahun tersebut. Sebab, Thailand biasanya terkenal dengan kehidupan malam. ’’Tentara bisa melakukan apa pun sekarang dan masyarakat tidak akan tahu,’’ tandasnya. (AFP/AP/sha/c14/tia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *