NTT Promosikan Pariwisata dengan “Tour de Flores”

Penelitian Pariwisata|RIPPDA|RIPOW-Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemparekraf) berusaha mengembangkan pariwisata Nusa Tenggara Timur (NTT). Salah satunya lewat wisata olahraga balap sepeda, Tour de Flores. Kepala Bagian Perencanaan dan Kerja Sama Destinasi Pariwisata Kemparekraf, Frans Teguh, mengatakan aktivitas balap sepeda ini bisa menjadi pariwisata minat khusus bidang olahraga yang memberikan pengalaman baru menyenangkan bagi wisatawan.

”NTT memiliki keunggulan pada alamnya yang indah, budayanya yang unik dan adanya kekhasan serta unsur lokal yang kuat. Dengan adanya rangkaian Tour de Flores, Tour de Timor dan Tour de Sumba, bisa menggerakkan aktivitas masyarakat daerah dan memberikan dampak positif ketika event ini berjalan,” katanya saat menjelaskan program pengembangan pariwisata NTT di kantor Kemparekraf Jakarta, Jumat (9/5).

Namun, hal ini perlu perencanaan yang matang dan tengah disusun oleh kelompok kerja (pokja) percepatan pembangunan pariwisata NTT. Idealnya dilakukan tahun depan agar bisa mempersiapkan semuanya secara profesional.

Frans mengaku semua dilihat dari kedalaman dan kondisi di lapangan. Ia merekomendasi kegiatan tersebut baiknya dilaksanakan pada Juni-Juli 2015 saat musim berawan, karena bila akhir tahun cenderung hujan.

Ia berharap acara tersebut menjadi pemicu terjadinya aktivitas lainnya dan bagian pariwisata secara luas di masyarakat yang memberikan dampak perekonomian secara konkrit. Bahkan kalau perlu perlu dibuat dengan skala internasional dengan kombinasi olahraga lainnya seperti renang dan menyelam, karena NTT memiliki perairan yang indah dan luas.

Ia menyakini hal ini dapat membangun pariwisata di NTT seperti terciptanya tempat penginapan seperti hotel dan fasilitas lainnya di setiap kota atau kabupaten. Maka dari itu, pihaknya dan penda mendorong terciptanya homestay.

”Dengan adanya tour ini akan melewati 7-8 kabupaten di NTT. Maka dari itu, kita terus mempersiapkan desa wisata yang akan disinggahi yang melalui jalur Manggarai Barat, Ende, Maumere, dan lainnya. Saat ini sudah banyak homestay yang dikelola masyarakat. Tinggal dikembangkan saja sehingga menjadi desa wisata yang terintregasi,” kata Frans.

Sekretaris Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT, Welly Rame Rohimone menjelaskan program pengembangan pariwisata NTT lainnya yang tengah disiapkan adalah lomba foto bawah laut, NTT Travel Mart dan NTT Expo.

Ada juga seminar ikan paus dan kongres kepariwisataan, pergelaran seni budaya, pengembangan desa wisata serta kerja sama daerah dan kerja sama subregional Indonesia dan Australia.

”Semua itu merupakan program unggulan dari kekhasan NTT yang menjadi prioritas pariwisata daerah. Hal ini nantinya akan menumbuhkan minat-minta khusus bagi wisatawan, baik wisatawan domestik maupun luar negeri,” kata dia.

NTT juga memiliki keunikan yang berbeda dari daerah-daerah lain. Contohnya saja komodo yang tidak ada di tempat lain. Selain itu ada Danau Kelimutu dengan 3 warna berbeda, upacara adat Pasola, pencarian ikan paus dan lainnya yang menjadi nilai keunikan dari pariwisata daerah.

Dalam mendorong pengembangan pariwisata daerah, pemerintah menggunakan dua pendekatan, yakni manajerial dengan menyelesaikan perencanaan, koordinasi lintas sektor, dan monitoring. Kedua pendekatan sistemik, yakni pariwisata yang mempengaruhi sektor lainnya seperti kehutanan, kelautan, dan pertanian.

Namun untuk mewujudkan semua program pengembangan pariwisata daerah perlu adanya peran swasta dan keterlibatan masyarakat lokal selain pemerintah. Karena saat ini masih banyak kekurangan khususnya infrastrukur, akses jalan menuju tempat wisata dan minimnya fasilitas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *