NESPARDA Jawa Tengah 2014 Difinalisasi Untuk Selanjutnya Dijadikan ACUAN

Penelitian Pariwisata | NESPARDA-Dalam sebuah WorkCover Nesparda 2shop Finalisasi Penyusunan Neraca Satelit Pariwsata Daerah Propinsi Jawa Tengah yang dilaksanakan di Tlogo Tuntang Resort, Rabu (26/11) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jawa Tengah bekerjasama dengan penelitianpariwisata.com melakukan finalisasi perhitungan NESPARDA Jawa Tengah. Kegiatan Finalisasi ini dihadiri oleh Kepala Pusat Data dan Informasi Kementrian Pariwisata, Abdul Kadir, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jawa Tengah yang dalam hal ini diwakili oleh Kabid Pemasaran dan Promosi, Trenggono serta dari Bappeda Propinsi Jawa Tengah Arif bodedijanto. Kegiatan NEPARDA Jawa Tengah 2014 ini disusun tim penyusun NESPARDA Dinas Kebudayaan dan Pariwisata beserta Tim dari penelitianpariwisata.com secara ringkas didalam NESPARDA Jawa Tengah disimpulkan bahwa Kegiatan pariwisata di Jawa Tengah mampu memberikan kontribusi yang cukup signifikan bagi pendapatan asli daerah dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat baik secara langsung atapun tidak langsung.

Melalui Nesparda Jateng ini merupakan instrumen yang penting yang mampu sebagai sistem neraca kegiatan ekonomi pariwisata untuk menggambarkan secara detil mengenai dampak ekonomi dan dampak ikutan lainnya atas kegiatan pariwisata di Jawa Tengah. Hal ini dikarenakan NESPARDA merupakan suatu tampilan informasi kuantitatif sektor pariwisata yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan kajian terhadap permasalahan pada sektor pariwisata.

 

Secara umum sektor pariwisata Jawa Tengah sangat berperan dalam pendorong peningkatan produksi dan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah baik secara langsung ataupun tidak langsung. Dampak kegiatan pariwisata terhadap perekonomian Jawa Tengah merupakan dampak dari pengeluaran wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara terhadap variabel ekonomi secara makro. Untuk Besaran dampak sektor pariwisata terhadap perekonomian Jawa Tengah diperoleh melalui operasi matematik terhadap matriks pengganda (multiplier effect matrices) yang diperoleh dari tabel input-output (I-O), dan nilai pengeluaran kegiatan pariwisata Jawa Tengah. Secara kuantitatif pada tabel NESPARDA Jawa Tengah disajikan sebagai berikut:

 

  1. Di tahun 2013, jumlah usaha akomodasi di Jawa Tengah mengalami peningkatan. Untuk klasifikasi hotel berbintang jumlahnya sebanyak 166 dengan rincian 11.572 kamar. Untuk akomodasi lain yang digunakan sebagai penginapan dan hotel non klasifikasi bintang juga mengalami peningkatan, yakni sebanyak 1.297 unit dengan jumlah kamar 23.645 buah. 
  2. Rata-rata Lama Menginap Tamu Asing mengalami peningkatan. Rata-rata wisatawan asing yang menginap di hotel sebesar 2,33 malam dengan perkembangan sebesar 0,87% dibandingkan di tahun sebelumnya atau tahun 2012
  3. Rata-rata tamu wisatawan nusantara sudah mencapai 2 malam untuk lama menginapnya baik yang menginap di hotel bintang maupun yang menginap di hotel non bintang.
  4. Pertumbuhan pekerja di bidang perhotelan di Jawa Tengah mengalami peningkatan 33,44% pada 2013. Sedangkan pada 2012 mengalami penurunan -10,66% di tahun 2012. Perhitungan tersebut berasal dari perbandingan jumlah rata-rata pekerja per kamar hotel dibandingkan dengan jumlah kamar hotel yang tersedia.
  5. Di tahun 2013 ini, tercatat sejumlah 29.430.609 wisatawan nusantara yang berkunjung di Jawa Tengah dengan rata-rata pengeluaran sebesar Rp.1,237,178 per orang. Adapun total pengeluaran yang dibelanjakan sebesar Rp.36,410,901,981,402.
  6. Pengeluaran terbanyak berada pada sektor transportasi yaitu total 35.59% total pengeluaran. Pengeluaran terbesar kedua adalah untuk makanan dan minuman sebanyak 23.55%. Pengeluaran terkecil wisnus inbound ini berasal adalah pramuwisata dan mengunjungi pertunjukan seni.
  7. Pada tahun 2013, jumlah wisman yang berkunjung di Jawa Tengah Mencapai 388.463 wisman.
  8. Struktur Pengeluaran tertinggi Wisatawan Mancanegara yang berkunjung di Jawa berada pada pengeluaran untuk transportasi baik udara ataupun transportasi darat dengan total 23,78%. Pengeluaran selanjutnya yaitu untuk penginapan yakni sebesar 18,68% sebagian besar Wisawatan mancanegara menginap di hotel berbintang ataupun resort hotel. Sedangkan pengeluaran ketiga terbesar yaitu untuk makan dan minum sebesar 15,58%.
  9. Di tahun 2013, jumlah warga Jawa Tengah yang berkunjung ke luar negeri sebanyak 491.697 orang dengan total pengeluaran mencapai Rp.4.305.428.000 pengeluaran terbesar untuk belanja yaitu 32,51% kemudian untuk akomodasi  sebesar 29,65% dan makanan dan minuman sebesar, 16,04%. Pengeluaran wisatawan pada tahun 2013 ini juga terdapat untuk berobat dan hiburan.
  10. Dalam mendukung pariwisata di Jawa Tengah perlu dilakukan investasi secara terus menerus, investasi yang telah dilakukan di tahun 2013 sebesar 441 milyar yang terdiri atas barang modal (Hotel, Restoran, bangunan bukan tempat tinggal) mesin, kendaraan dan lainnya.
  11. Investasi yang dikeluarkan untuk kegiatan promosi Jawa Tengah di tahun 2013 sebesar Rp.200.759.739.000 dengan pengeluaran promosi terbesar untuk produk industri atau 36.41% dan pengeluaran promosi terkecil untuk Jasa Keuangan atau 0.00%
  12. Pada tahun 2013 pengeluaran wisatawan nusantara inbound provinsi Jawa Tengah sebesar Rp.36,41 triliun dan telah memberikan dampak terciptanya output ekonomi senilai  Rp.56,78 triliun atau 2 kali lipat dari pengeluaran.
  13. Sektor yang mendapatkan pengaruh paling besar dengan adanya pengeluaran wisatawan nusantara inbound di provinsi Jawa Tengah adalah sektor pengangkutan dan komunikasi. Sektor ini mampu menghasilkan output sebesar 24,88% dari total output atau Rp.14,12 triliun.
  14. Pada tahun 2013 pengeluaran wisatawan mancanegara inbound sebesar Rp.2,36 milyar mampu menghasilkan dampak output sebesar Rp.3,66 milyar atau 1.55 kali lipat jumlah pengeluaran.
  15. Sektor yang paling berpengaruh terhadap pengeluaran wisatawan mancanegara inbound adalah sektor jasa serta pengangkutan dan komunikasi. Kedua sektor ini mampu menghasilkan output sebesar 18,91 % dan 18,11 % dari total output atau sebesar Rp.692,94 juta dan Rp.663,65 juta dari total output.
  16. Dampak terhadap output mencapai Rp.57,89 trilliun atau 5.38% terhadap output regional yang mencapai Rp.1.074 trilliun
  17. Dampak terhadap NTB mencapai Rp.37,06 trilliun atau mencapai 5.94% terhadap PDRB Jateng yang mencapai Rp.623,75 trilliun.
  18. Dampak terhadap upah/gaji Rp.9,29 trilliun atau mencapai 5,52% terhadap upah/gaji.
  19. Dampak terhadap Pajak Tak Langsung Rp.1,99 trilliun atau mencapai 6.63% terhadap Pajak Tak Langsung.
  20. Dampak terhadap kesempatan kerja adalah 1.328.953 orang atau 5.14% dari total tenaga kerja sebanyak 25.844.254 orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *