Membangun Wisata Syariah

Konsultan Penelitian Pariwisata -Muslim membelanjakan dana besar untuk wisata. Pada akhir 2013 Thomson Reuters merilis data yang menunjukkan belanja Muslim secara global sepanjang 2012 untuk melancong ke negeri-negeri lain mencapai 137 miliar dolar AS. Dalam laporan berjudul State of The Global Islamic Economy 2013 Report, disebutkan jumlah ini sama dengan 12,5 persen dari keseluruhan nilai belanja pariwisata dunia. Angka itu belum termasuk belanja untuk umrah dan haji. Dan, menurut perkiraan mereka, pada 2018 belanja Muslim untuk keperluan wisata menembus 181 miliar dolar AS.  “Sebagai negara yang Muslim friendly, Indonesia dan Malaysia rugi jika tidak fokus ke segmen ini,” kata Menteri Pariwisata dan Budaya Malaysia Dato Seri Nazri Bin Tan Sri Abdul Azis saat membuka Joint Seminar on Islamic Tourism di Kuala Lumpur, Malaysia, Senin (17/2).

Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar mengatakan, saat ini Indonesia memang sedang bertransformasi besar dalam wisata di Tanah Air. Bentuknya berupa penyediaan dan pengelolaan wisata syariah.

Ini merupakan dimensi etika baru dalam wisata. Tak terbatas pada wisata religi semata, tetapi meluas ke semua bentuk wisata selama tak bertentangan dengan nilai Islam. “Pasar wisata syariah ini memiliki prospek sangat progresif ke depan,” ujar Sapta, Kamis (27/2).

Bukan tanpa alasan Indonesia menaruh perhatian pada pengembangan wisata syariah. Ia mengungkapkan, di dunia saat ini Muslim merupakan komunitas agama terbesar kedua setelah Kristen dengan jumlah pemeluk yang mencapai lebih dari 1,62 miliar jiwa.

Merujuk pada data statistik ini, umat Islam mengisi 23 persen populasi manusia di bumi. Mereka memiliki etika hidup yang diatur dalam syariat. Ini mencakup keuangan syariah, asuransi, makanan dan minuman halal, obat dan kosmetik, pakaian, juga wisata.

Dengan pertumbuhahan yang sangat pesat ditambah perbaikan kehidupan mereka saat ini, umat Islam menjadi kekuatan baru dalam wisata global. Bahkan, diperkirakan pada 2020 pasar wisata Muslim global melebihi pasar wisata di lima negara besar.

Kelima negara itu adalah Jerman, Amerika Serikat (AS), Cina, Inggris, dan India. “Indonesia berpeluang memimpin wisata syariah dunia secara global,” kata Sapta. Di Indonesia, wisata syariah dikembangkan dalam tiga hal, yakni wisata alam, budaya, dan wisata buatan.

Di sisi lain, Sapta menyatakan, dalam draf Peraturan Menteri (Permen) Nomor 2/2014 dijelaskan tentang pedoman usaha hotel, restoran, dan paket sesuai syariah. Aturan ini akan mendukung standar pengelolaan wisata syariah oleh pelaku usaha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *