Melihat Proyeksi Pariwisata Gunungkidul

Melihat-Proyeksi-Pariwisata-GunungkidulPenelitian Pariwisata | RIPPDA | STATISTIK -PERJALANAN menuju kawasan Gunung-kidul memang berbeda jika dibanding kawasan kabupaten lainya di DIJ. Berliku dan menan-jak, serta acap kali harus memperlahan laju kendaraan ketika menaiki tanjakan ada truk yang lajunya melambat karena kiloan berat yang diangkutnya. Tapi, waktu sekitar satu setengah jam tak te-rasa lama. Sepanjang perjalanan, di kanan dan kiri tak lepas dari pemandangan hijau yang mem-buat mata tetap fresh. Meyakinkan pendatang bahwa kawasan ini bukan hanya perbukitan kapur saja, namun ada sederet objek wisata alam, saat menaiki kawasan ini pun pengendara di banjiri visual dengan reklame pusat oleh-oleh, restoran dan tempat menginap

Sederet nama objek wisata yang sedang naik daun dari Gunung-kidul, antara lain, Pantai Indrayanti, serta beberapa pan-tai yang dalam satu kawasan, seperti Pantai Sundak, Pantai Krakal, Pantai Kukup, Pantai Baron, Pantai Ngobaran, serta eksotisnya Gua Pindul dan pe-seona Desa Wisata Nglanggeran, merupakan sederat objek wi-sata yang sejak mencuat nama-nya tak pernah sepi pengunjung.Nama-nama objek wisata ini be-lum lama mensejajari kawasan wisata di Bali. Tak kurang dari em-pat tahun belakangan, deretan objek wisata di kawasan ini men-jadi kisah indah di balik kisah ke-keringan. Sektor pariwisata meng-geliat, dan memberikan sumbangsih positif bagi masyarakatnya, teru-tama di sektor ekonomi.

”Pariwisata Gunungkidul me-mang baru tiga-empat tahun ini menggeliat, tapi untuk ke depan-nya tetap harus ada penataan yang konsep pengembangannya adalah berbasis pemberdayaan masyarakat,” ujar Sekda Gunung-kidul Budi Martono saat menin-jau beberapa potensi objek wisata baru, Selasa (7/10).Kepada Radar Jogja Budi menu-turkan, dampak pariwisata Gunungkidul pada perekono-mian sudah mulai terlihat. Di sepanjang jalan Jogja-Gunung-kidul sudah banyak dilihat pusat oleh-oleh, rumah makan dan tempat penginapan

Geliat ini sangat menggembi-rakan, dikarenakan potensi itu memang dimiliki Gunungkidul. Namun menurutnya, tetap ada penataan agar pengelolaan objek wisata menjadi lebih baik dan tidak terjadi masalah seperti yang terjadi pada Goa Pindul. Meski-pun kini masalahnya sudah dalam tahap penyelesaian.”Sebetulnya contoh di Pindul itu sudah sangat bagus, pemerin-tah dalam hal ini hanya pajak rumah makan lalu masuk retri-busi, tapi lainnya seperti ke-pemanduan, sewa ban, dan sebagainya kita serahkan pada masyarakat,” ujar Budi.

Fakta itulah yang menurutnya, membuat pemerintah daerah memiliki semangat dan sepakat bahwa nantinya pengelolaan pan-tai, goa dan objek lainnya diserah-kan kepada masyarakat setempat.Dalam jangka empat tahun terakhir, dari data Dinas Pari-wisata Gunungkidul tercatat peningkatan jumlah wisatawan yang cukup signifikan. Dalam waktu itu pula, sektor pariwi-sata menjadi unggulan Gunung-kidul, meskipun sektor lain seperti pertanian dan peternakan tetap dipertahankan.

Untuk tahun 2012, pendapatan asli daerah (PAD) dari wisatawan yang datang ke Gunungkidul mencapai Rp 6 miliar, tahun 2013 mencapai Rp 9 miliar, di 2014 ini telah memenuhi target yakni mencapai angka Rp 11 miliar.”Tahun 2015 kita targetkan akan ada pendapatan Rp 13 miliar dari wisatawan yang datang ke Gunungkidul. Saya yakin, Gunungkidul tidak kalah se-perti Bali, dengan catatan ma-syarakat harus siap,” ujarnya.Untuk mempersiapkan itu, me-mang bukan hal yang mudah untuk mengubah masyarakat yang tadinya hidup agraris ke sektor pariwisata. Karena pariwisata tidak hanya menjual potensi alam-nya saja, namun juga keamanan dan kenyamanan. Untuk hal ini, kesiapan masyarakat sudah mu-lai dibina dan ditumbuhkan.

Menurutnya, masyarakat di kawasan pantai yang bukan ne-layan pun baru berani masuk laut beberapa tahun terakhir. Itu pun setelah ada statemen dari Gubernur DIJ Hamengku Buwono X bahwa pantai selatan itu pintu gerbang, among tani dagang layar.”Baru setelah itu masyarakat pa-ham, banyak yang bisa dimanfaat-kan dari laut. Sekarang mereka sudah berani ke laut, yang tadinya masih menganggap laut itu miliknya Nyi Roro Kidul,” ujarnya

Pelatihan bahasa Inggris, pem-binaan soal sanitasi dan keber-sihan di rumah makan dan penginapan, sudah mulai dila-kukan secara berkala. Jika masyarakat sudah siap, regu-lasi siap, maka investor akan mulai melirik.Namun, Gunungkidul hingga saat ini masih membatasi pembangunan hotel bertingkat, karena kaitannya dengan air tanah. Pihaknya mendukung adanya pengembangan dalam bentuk resort, dengan memberdayakan rumah-rumah penduduk, namun disetting lebih baik dengan tetap tradisional yang mencirikan bu-daya. Tetapi tetap harus diper-baiki, misal toiletnya yang di-buat dengan nuansa lebih modern.

”Untuk investor kita batasi, kami memilih mengoptimalkan putra daerah yang sukses di luar sana untuk bersinergi membangun kampung halamannya,” ujarnya, seraya menambahkan beberapa putra daerah yang tergabung da-lam Ikatan Keluarga Gunungkidul tertarik mengembangkan daerah Pathuk dan pantai.Selain itu, ada pekerjaan rumah yang masih harus dirampungkan yakni soal infrastrutur. Dengan menjadikan Gunungkidul se-bagai destinasi wisata DIJ, ma-ka harus ada campur tangan pemerintah di tingkat provinsi dan pusat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *