Kajian Filosofi Tata Ruang Kraton Ngayogyakarta Akan diselenggarakan bekerjasama dengan Bappeda Kota Yogyakarta dan PT Kirana Adhirajasa Indonesia

gambar-tugu-jogja dimalam hariDalam stratifikasi sosial masyarakat Yogyakarta, Sultan merupakan orang tertinggi yang menduduki puncak stratifikasi sosial tersebut sehingga Kraton hanya dapat ditinggali oleh Sultan. Dahulunya dalam struktur ruang kota Yogyakarta merupakan pusat dari Kota Yogyakarta yang waktu itu disebut Negara. Negara atau Kota Yogyakarta dengan Karaton yang sebagai intinya merupakan Ibu Kota atau sebagai Pusat Pemerintahan Kasultanan Yogyakarta. Konsep filosofis menjadi dasar pertumbuhan dari kota Yogyakarta sehingga dapat dikatakan bahwa Kota Yogyakarta ini tidak tumbuh secara organis seperti kota lain pada umumnya. Pola ruang kota Yogyakarta telah menunjukkan bagaimana konsep filosofis terkandung didalamnya.Sumbu atau poros filosofis menghubungkan 3 elemen penting dalam Kraton Yogyakarta yang membentuk satu garis lurus. Sumbu ini  menghubungkan Panggung Krapyak (selatan), Karaton (tengah)dan Tugu (utara). Arah selatan atau kebawah mengarah ke laut selatan (samudra Indonesia) sedangkan arah ke utara atau keatas mengarah ke Gunung Merapi.

Pada hakikatnya ruang kota terdiri dari beberapa ruang hasil pemaknaan tersebut yang sesuai dengan jumlah nilai-nilai yang mendasarinya seperti nilai ekonomi yang nantinya akan membentuk ruang ekonomi, nilai sosial yang nantinya akan membentuk ruang sosial. Sama halnya dengan kota Yogyakarta yang menjadikan Kraton sebagai pusat pemerintahan, Kraton Yogyakarta dikelilingi beberapa unsur bangunan penting antara lain: pusat pemerintahan, alun-alun, tempat ibadah, lokasi ekonomi (pasar) dan kampung-kampung. Pada setiap pembangunannya, lokasi-lokasi yang mengelilingi Kraton Yogyakarta mengandung makna filosofis.

Dengan demikian Badan Perencanan Pembangunan Daerah Kota Yogyakarta Bekerjasama dengan PT. Kirana Adhirajasa Indonesia melakukan kajian tata ruang filosofi Keraton Yogyakarta yang bertujuan untuk mempertahankan konsistensi filosofi yang dibangun sejak lama oleh Kraton. Selain itu, perlunya ada kajian ini guna memberikan pengaruh pada penataan tata ruang kota Yogyakarta dan diharapkan mampumemberikan pengaruh pada dunia pariwisata di Kota Yogyakarta. Kajian ini diselenggarakan selama 90 hari yang dimulai Mei 2015 dan melibatkan beberapa tenaga ahli. Adapun tujuan Mengidentifikasi filosofi letak tata ruang Kraton Yogyakarta adalah Memformulasikan tentang filosofi tata ruang kampung kompleks Kraton Yogyakarta yang terkait dengan budaya setempat atau budaya lokal, Mempertahankan konsistensi filosofi dari letak tata ruang kompleks Kraton Yogyakarta , Menciptakan sebuah kebijakan tata ruang yang dapat digunakan di masa yang akan datang dan dapat diterapkan guna lebih mengembangkan dunia pariwisata di Kota Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *