Kajian Budaya Kalang Kota Yogyakarta Kerjasama Dengan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta

rumah-kalangKota Yogyakarta tidaklah luas bahkan sangat kecil, tidak memiliki potensi industri dan hampir-hampir tidak memiliki potensi alam seperti daerah lain yang dijadikan sebagai unggulan daerah. Namun demikian, Kota Yogyakarta menjadi besar namanya karena memiliki hal yang jauh lebih penting sebagai kekuatan utamanya, yakni BUDAYA yang tumbuh berkembang di masyarakat, baik yang bersumber dari Kraton dan Pakualaman maupun yang bersumber dari masyarakatnya sendiri.Salah satu budaya yang bersumber dari masyarakat adalah budaya Masyarakat Kalang. Kalang berasal dari Bali yang berarti ahli bangunan, terutama yang bermateri kayu. Selera seni dengan ketrampilannya yang tinggi terkenal di seluruh Nusantara, sehingga  Sultan Agung Hanyokrokusumo berkenan mendatangkan Orang-orang Kalang dari Bali untuk membantu dalam pembangunan Kraton beliau dan diminta menetap di Kotagede. Sejak itulah kelompok Orang Kalang berkembang menjadi masyarakat yang turut mewarnai kharakter Kotagede dengan adat dan tradisi yang masih mereka pertahankan.

Kepiawaian dalam berwirausaha dari Masyarakat Kalang ini juga menjadikan mereka makin dipercaya oleh Kraton dan Masyarakat Yogyakarta. Semangat pengabdian pada Yogyakarta membuat Masyarakat Kalang mempunyai kontribusi yang besar terhadap pengembangan Yogyakarta dan juga dalam sejarah pembentukkan NKRI. Saat ini, keberadaan Masyarakat Kalang tersebar di seluruh Jawa terutama di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Kekuatan budaya Masyarakat Kalang turut mewarnai Yogyakarta. Untuk itu, Budaya Masyarakat Kalang harus kembali diperkenalkan kepada masyarakat sebagai upaya pelestarian budaya Yogyakarta.

Kota Yogyakarta tidaklah luas bahkan sangat kecil, tidak memiliki potensi industri dan hampir-hampir tidak memiliki potensi alam seperti daerah lain yang dijadikan sebagai unggulan daerah. Namun demikian, Kota Yogyakarta menjadi besar namanya karena memiliki hal yang jauh lebih penting sebagai kekuatan utamanya, yakni BUDAYA yang tumbuh berkembang di masyarakat, baik yang bersumber dari Kraton dan Pakualaman maupun yang bersumber dari masyarakatnya sendiri.

Salah satu budaya yang bersumber dari masyarakat adalah budaya Masyarakat Kalang. Kalang berasal dari Bali yang berarti ahli bangunan, terutama yang bermateri kayu. Selera seni dengan ketrampilannya yang tinggi terkenal di seluruh Nusantara, sehingga  Sultan Agung Hanyokrokusumo berkenan mendatangkan Orang-orang Kalang dari Bali untuk membantu dalam pembangunan Kraton beliau dan diminta menetap di Kotagede. Sejak itulah kelompok Orang Kalang berkembang menjadi masyarakat yang turut mewarnai kharakter Kotagede dengan adat dan tradisi yang masih mereka pertahankan. Kepiawaian dalam berwirausaha dari Masyarakat Kalang ini juga menjadikan mereka makin dipercaya oleh Kraton dan Masyarakat Yogyakarta. Semangat pengabdian pada Yogyakarta membuat Masyarakat Kalang mempunyai kontribusi yang besar terhadap pengembangan Yogyakarta dan juga dalam sejarah pembentukkan NKRI. Saat ini, keberadaan Masyarakat Kalang tersebar di seluruh Jawa terutama di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Kekuatan budaya Masyarakat Kalang turut mewarnai Yogyakarta. Untuk itu, Budaya Masyarakat Kalang harus kembali diperkenalkan kepada masyarakat sebagai upaya pelestarian budaya Yogyakarta. Yogyakarta memiliki begitu banyak ragam budaya yang menjadikan kota ini begitu kaya dan menarik. Berbagai Warisan Budaya tersebut berupa warisan budaya yang bersifat bendawi dan tidak bendawi yang memiliki arti penting dalammenandai perjalanan hidup masyarakat atau orang perorang sehingga membentuk kharakter unik Masyarakat Yogyakarta. Kekayaan budaya ini bersumber dari berbagai kelompok masyarakat.

Salah satu kelompok masyarakat yang menjadi bagian tak terpisahkan dengan Yogyakarta adalah Orang Kalang. Tidak banyak referensi atau literatur yang menuliskan tentang sejarah keberadaan Orang Kalang di Yogyakarta. Sejarah Orang Kalang lebih banyak didapatkan dari cerita tutur secara turun-temurun diantara keturunan orang-orang Kalang sendiri, dari generasi ke generasi. Istilah “Kalang” sendiri berasal dari Bali yang mempunyai arti Ahli Perkayuanyang kemampuan utama mereka adalah membuat kerajinan kayu yang sangat detail dan rumit. Karena keahliannya yang sudah terkenal itulah mereka khusus di datangkan dari Bali ke Yogyakarta untuk turut serta dalam pembangunan Keraton saat itu, terutama pada masa bertahtanya Sultan Agung Hanyakrakusuma. Pada saat itu, domisili Orang-orang Kalang terkonsentrasi di wilayah Kotagede sesuai lokasi pembangunan Keraton. Sejak saat itulah Orang Kalang berkembang populasinya dan membentuk sebuah masyarakat yang lama kelamaan berbaur dengan kelompok masyarakat lainnya yang telah lebih dulu ada di Yogyakarta.

Keuletan Orang Kalang telah membawa mereka beralih menggeluti bidang bisnis perhiasan emas dan berlian serta selanjutnya di bidang batik tulis dan cap hingga ke bidang sekuritas sampai ke perhotelan. Kemampuan manajemen bisnis didukung dengan citarasa seni yang tinggi membuat Orang Kalang dipercaya oleh Belanda maupun Keraton Yogyakarta, sehingga orang-orang Kalang mempunyai derajat sosial ekonomi yang diperhitungkan. Tingginya derajat ekonomi dapat dilihat dari indah dan megahnya bangunan rumah-rumah orang Kalang yang ada di Kota Yogyakarta, terlebih di wilayah Kotagede. Orang kalang menjadi tuan tanah di Kota Yogyakarta dan bahkan di Kota Surakarta.

Totalitas pengabdian Orang Kalang pada Keraton Yogyakarta menjadikan mereka memiliki kontribusi yang tidak sedikt dalam sejarah perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia dan Yogyakarta. Pada saat Kota Yogyakarta menjadi Ibukota Republik Indonesia, atas permintaan Sri Sultan HB IXOrang-orang Kalang berkontribusi dalam pembiayaan pemerintahan saat itu. Pada waktu agresi militer Belanda ke-2 dalam penyerangan ke Yogyakarta, atas anjuran Sri Sultan HB IX, mereka terpaksa mengungsi ke berbagai tempat demi keamanan kelompok masyarakat mereka sendiri. Orang-orang Kalang mengungsi ke arah timur dan ke arah barat Yogyakarta. Itu sebabnya hingga saat ini, selain Yogyakarta, terdapat beberapa konsentrasi kelompok orang Kalang seperti di Solo, Kebumen, Ngambal dan Pertanahan.

Saat ini, karena berbagai kondisi perubahan iklim politik dari rezim pemerintahan, Orang Kalang pada umumnya mengalami kemunduran yang signifikan dalam berbagai bisnis yang selama ini dijalani. Mulai dari bahan baku emas dan permata yang sulit dicari, muncul dan berkembangnya Batik Printing dan juga persaingan kapitalis tidak sehat yang menindas ekonomi kerakyatan yang dianut mereka.

Dalam bidang sosial-budayapun, Orang Kalang juga mengalami pergeseran nilai yang dikarenakan asimilasi dengan masyarakat yang membuat tradisi orang Kalang terpenetrasi dengan budaya masyarakat sekitar. Meskipun demikian sebagian Orang Kalang masih mempertahankan kebudayaan dan tradisinya. Seperti tradisi menikah diantara kaumnya sendiri,dan juga tradisi untuk memperingati orang yang sudah meninggal yang disebut Obong.

Saat ini, Orang kalang sudah benar-benar menyatu dengan masyarakat lainnya yang juga ada di Yogyakarta, sehingga tidak ada bedanya. Semua menjadi bagian dari Kota Yogyakarta. Bahkan riwayat sejarah Orang Kalang pun hampir-hampir tidak ada masyarakat yang tahu, kecuali mereka yang merupakan keturunan Orang Kalang itu sendiri. Namun bagaimanapun juga, peran dan sumbangsih Orang-orang Kalang dalam membangun kemajuan Kota Yogyakarta serta mempertahankan NKRI di masa-masa yang genting sudah selayaknya mendapatkan apresiasi dan menjadi perhatian kita semua. Sehingga Kajian Budaya ini dilaksanakan bukan sekedar sebagai bentuk penghargaan kepadaOrang Kalang, namun juga sebagai upaya mempertahankan dan melestarikan kekayaan budaya Yogyakarta dalam menghadapi perkembangan jaman saat ini.

Yogyakarta memiliki begitu banyak ragam budaya yang menjadikan kota ini begitu kaya dan menarik. Berbagai Warisan Budaya tersebut berupa warisan budaya yang bersifat bendawi dan tidak bendawi yang memiliki arti penting dalam menandai perjalanan hidup masyarakat atau orang perorang sehingga membentuk kharakter unik Masyarakat Yogyakarta. Kekayaan budaya ini bersumber dari berbagai kelompok masyarakat. Salah satu kelompok masyarakat yang menjadi bagian tak terpisahkan dengan Yogyakarta adalah Orang Kalang. Tidak banyak referensi atau literatur yang menuliskan tentang sejarah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>