Ini Masalah-masalah Pengembangan Wisata Selam di Indonesia

Konsultan Penelitian Pariwisata-Bicara soal wisata selam atau diving, Indonesia punya segalanya. Keanekaragaman mahluk bawah laut dan bentangan terumbu karang cantik ada di berbagai wilayah. Namun, masih banyak masalah pengembangan wisata selam di Indonesia. Indonesia disebut-sebut sebagai surga bawah laut. Dari Sabang di Aceh hingga Raja Ampat di Papua Barat, ada sekitar 700 titik selam yang punya keunikan masing-masing. Meski indah, bukan berati tak banyak masalah mengenai pengembangan destinasi wisata selam ini. “Masalahnya, bagaimana kita dikenal dengan surga bawah laut di dunia sebagai Indonesia. Okelah Raja Ampat terkenal di dunia, tapi bagaimana kalau Raja Ampat tidak dikenal sebagai wilayah Indonesia. Mereka tahu kalau Raja Ampat itu ya Raja Ampat,” ujar Menparekraf, Mari Elka Pangestu pada acara pengumuman pemenang Indonesia World Underwater Photo Contest (IWUPC) di Moulin Rouge Hall, Grand Indonesia, Jl MH Thamrin, Jakarta, Kamis (9/1/2014).

Banyaknya titik selam di Indonesia rupanya juga merepotkan pengembangan di berbagai wilayahnya. Hal ini diutarakan oleh konsultan wisata bahari untuk Kemenparekraf, Cipto Aji Gunawan dalam kesempatan yang sama.

“Indonesia adalah destinasi yang mahal untuk wisata selam. Hal ini disebabkan infrastruktur yang lemah dan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain memakan waktu lama dan biaya lebih besar,” kata Cipto.

Cipto memberikan contoh soal turis Hong Kong yang mau menyelam ke Lembeh, pulau yang ada di Bitung, Sulawesi Utara. Turis Hong Kong yang mau ke sana bakal melalui perjalanan yang memakan waktu lama dan menguras banyak tenaga.

“Dari Hong Kong mereka harus ke Jakarta dulu, lalu baru lanjut ke Manado terus ke Lembeh. Kenapa tidak ada penerbangan langsung dari Hong Kong ke Manado? Akhirnya, turis Hong Kong memilih Filipina yang lebih dekat,” papar Cipto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *