Infrastruktur Jadi Kendala Pengembangan Pariwisata dan Industri Kreatif Tasikmalaya

Infrastruktur masih menjadi penghambat pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif kota Tasikmalaya. Dalam kata sambutannya sebelum kuliah Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu di Universitas Siliwangi, Tasikmalaya, Sabtu (12/4/2014), Wali Kota Tasikmalaya Budi Budiman sempat memaparkan beberapa tantangan yang dihadapi para pelaku industri. “Infrastruktur adalah salah satunya,” ujar Budi yang juga merupakan alumnus Universitas Siliwangi ini. Dikatakannya, Tasikmalaya saat ini memiliki 2.350 pengusaha industri kecil dan menengah. Penyerapan tenaga kerja sebanyak 24 ribu perajin dengan nilai transaksi Rp 1,4 triliun. Beberapa industri kreatif yang menjadi kekuatan Tasikmalaya di antaranya bordir, kelom, anyaman, kayu, dan payung geulis.

Kendati industri tersebut cukup bergairah, kota Tasikmalaya dikatakan Budi masih memiliki angka kemiskinan tertinggi di Jawa Barat.

“Target kami minimal menekan angka kemiskinan hingga 2 persen tiap tahunnya. Tahun 2012, kami telah menekan 1 persen menjadi 18,8 persen dari tahun 2011,” katanya.

Oleh karena itu, perbaikan infrastuktur diharapkan dapat mendongkrak industri pariwisata dan ekonomi kreatif sehingga juga mampu menekan angka kemiskinan.

Perbaiakan infrastruktur yang ia maksud mencakup pembangunan bandara komersial di Tasikmalaya serta jalan tol yang mengubungkan Bandung dan Tasikmalaya.

“Konektivitas yang nyaman dan cepat akan memudahkan akses wisatawan untuk datang ke Tasik. Begitu pula bagi pelaku industri Tasik yang akan merasakan percepatan transaksi,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *