Gerhana Matahari Total 2016, Momentum Dongkrak Pariwisata Indonesia

Penelitian Pariwisata | RIPPDA | RIPOW –

pierrePada 9 Maret 2016 nanti, Indonesia akan menjadi saksi atas terjadinya fenomena alam cukup langka di dunia, yaitu solar eclipse atau Gerhana Matahari Total (GMT). Diharapkan, GMT akan mendongkrak pariwisata di kota-kota yang dilintasi fenomena sang surya itu. Berdasar temuan Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN), fenomena Gerhana Matahari Total dapat disaksikan di sejumlah kota seperti Palembang, Palangkaraya, Palu, Sulawesi Tenggara, Bangka Belitung, dan Halmahera. Kejadian ini telah menarik atensi minat wisatawan mancanegara untuk melihat langsung fenomena alam itu. Pasalnya, peristiwa langka itu belum tentu bisa disaksikan kembali dalam 40 tahun ke depan.

“Sektor pariwisata adalah yang paling beruntung karena adanya fenomena ini. Beberapa bisnis seperti hotel, restoran, penerbangan, dan agen wisata akan memperoleh keuntungan besar berkat ledakan wisatawan. Namun, ini hanya bisa terjadi jika para pemangku kepentingan masing-masing bisnis tersebut memperisiapkan diri dengan baik. Saya rasa dua tahun merupakan masa yang tepat untuk mulai mempromosikan solar eclipse,” papar CEO Pacific Asia Travel Association (PATA) Indonesia Chapter Poernomo Siswoprasetijo, di Jakarta, Selasa (16/12/2014).

Poernomo menjelaskan, sebagai bagian dari badan promosi pariwisata dunia yang beranggotakan sekitar 1.100 industri pariwisata dari 42 negara, PATA Indonesia Chapter (PIC) telah bermitra dengan Kementerian Pariwisata dan Pemerintah Daerah untuk merumuskan strategi promosi Gerhana Matahari Total.

Poernomo berharap fenomena ini dapat mempercepat pengembangan destinasi wisata di daerah-daerah yang dilintasi GMT dan mendatangkan wisatawan ke daerah itu. Tidak hanya saat GMT terjadi, tetapi juga pada masa sebelum maupun sesudah fenomena akbar itu. “Kami berharap pemda setempat mampu memanfaatkan momen tersebut untuk mempromosikan pariwisata daerahnya secara berkesinambungan,” tambahnya.

Lebih lanjut, Poernomo bilang, GMT dapat pula mendongkrak pamor wisata maritim dan konsep tol laut yang digagas Pemerintah Jokowi-JK. Misalnya, melalui kapal-kapal pesiar milik PT Pelni yang dapat dimanfaatkan sebagai hotel terapung guna memberikan alternatif pasokan kamar bagi daerah wisata GMT.

Sayangnya, Kementerian Pariwisata masih belum dapat memprediksi jumlah wisatawan mancanegara maupun lokal yang dapat terjaring dari fenomena GMT ini. Program yang akan dijalankan pun masih belum dapat dibeberkan lebih lanjut. Alasannya, Kementerian sedang merumuskan program dan strategi pemasaran dari fenomena GMT itu. Walau demikian, Kementerian Pariwisata berkomitmen untuk mendatangkan 20 juta wisman pada tahun 2019.

“Sebenarnya, banyak hal unik yang bisa dilakukan menyambut GMT itu. Misalnya, mengadakan festival daerah, festival jazz, atau merencanakan untuk memecahkan rekor melihat GMT terbanyak di dunia. Untuk itu, kami mengimbau agar hotel-hotel di jalur GMT dapat menyesuaikan standar sehingga bisa membuat wisatawan merasa nyaman,” kata Thalma Sabban, Perwakilan Kementerian Pariwisata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *