Dinas Kebudayaan DIY Lakukan Penyusunan Kajian Promosi Yogyakarta Sebagai Warisan Budaya Dunia

gambar-tugu-jogja dimalam hariYogyakarta merupakan Ibukota Provinsi dari Daerah Istimewa Yogyakarta yang merupakan salah satu dari 33 provinsi yang ada di Indonesia. Yogyakarta sebuah kota yang kaya predikat, baik berasal dari sejarah maupun potensi yang ada, seperti sebagai kota perjuangan, kota kebudayaan, kota pelajar, dan kota pariwisata. Menurut Babad Gianti, Yogyakarta atau Ngayogyakarta (Bahasa Jawa) adalah nama yang diberikan Paku Buwono II (Raja Mataram tahun 1719-1727) sebagai pengganti nama pesanggrahan Gartitawati. Yogyakarta berarti Yogya yang kerta, Yogya yang makmur, sedangkan Ngayogyakarta Hadiningrat berarti Yogya yang makmur dan paling utama. Sumber lain mengatakan, nama Yogyakarta diambil dari nama (ibu) kota Sanskrit Ayodhya dalam cerita Ramayana. Dalam penggunaannya sehari-hari, Yogyakarta lazim diucapkan Jogja(karta) atau Ngayogyakarta (Bahasa Jawa) .

Keistimewaan Yogyakarta tidak hanya dilihat dari sudut pandang politik dan pemerintah, namun juga aspek-aspek sosial-budaya yang bermuara di Keraton Yogyakarta. Keraton Yogyakarta adalah simbol budaya adiluhung Jawa. Hingga kini, keraton yang berdiri dua setengah abad yang lalu itu masih menjadi acuan kultural masyarakat di DIY dan sebagian Jawa Tengah. Keberadaan Keraton sangat mendukung perkembangan seni dan budaya yang merupakan bagian tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Yogyakarta. Bagi masyarakat Yogyakarta, setiap tahapan kehidupan mempunyai arti tersendiri, tradisi adalah sebuah hal yang penting dan masih dilaksanakan sampai saat ini. Tradisi juga pasti tidak lepas dari kesenian yang disajikan dalam upacara-upacara tradisi tersebut. Inilah yang mendorong terwujudnya Yogyakarta sebagai kota pariwisata dan budaya .

Penetapan Yogyakarta sebagai City of Philosophy bertujuan untuk melestarikan nilai luhur yang dapat diwariskan kepada masyarakat Yogyakarta, bangsa Indonesia dan dunia. Salah satunya dengan menjadikan Yogyakarta sebagai Warisan Budaya Dunia (World Heritage). Yogyakarta memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menjadi Kota Warisan Dunia. Yogyakarta memiliki kekhasan serta keistimewaan dalam penataan kota yang didasari sumbu filosofi Keraton Yogyakarta, yakni Tugu Golong Gilig/Pal Putih – Keraton – Panggung Krapyak. Nilai filosofis dari Panggung Krapyak ke utara melambangkan perjalanan manusia sejak dilahirkan hingga tewas, menikah dan melahirkan anak. Sedangkan dari Tugu Golong Gilig ke selatan memiliki lambang perjalanan manusia untuk menghadap kepada Tuhan YME.

Saat ini Kota Yogyakarta telah masuk pada daftar Tentative List di UNESCO. Nilai-nilai yang menjadi kriteria Outstanding Universal Value diantaranya adalah  :

  1. Merupakan mahakarya serta kreativitas manusia yang mencerminkan perencanaan pusat kota dengan menggambarkan siklus hidup manusia, mulai dari awal kehidupan sampai dengan kembali ke Tuhan.
  2. Perencanaan pusat kota yang dirancang berdasarkan filosofi Jawa yang merupakan produk dari interaksi budaya yang panjang antara budaya asli dan peradaban lainnya terutama Hindu dan Islam.
  3. Komponen utama dari Yogyakarta sebagai Kota Sejarah secara nyata adalah dengan mewujudkan kosmologi Jawa dan kepercayaan tradisional mengenai sifat-sifat kehidupan manusia, diantaranya sangkan paraning dumadi, manunggaling kawula Gusti dan hamemayu hayuning bawana.

Selain Yogyakarta, salah satu kota di Thailand yaitu Kota Ayutthaya juga memenuhi kriteria dari UNESCO menjadi Kota Warisan Dunia. Pada saat ini kota tersebut menarik perhatian banyak wisatawan dari penjuru dunia untuk mengagumi reruntuhan dan patung batu Buddha di Ayutthaya, yang pernah menjadi salah satu ibukota kuno Thailand, yang pada saat itu dikenal dengan nama Siam. Ayutthaya sama halnya dengan Yogyakarta di mana bertebaran candi-candi peninggalan sejarah. Orang-orangnya ramah dan memiliki kehidupan yang santun.

Perbedaan pusat kota bersejarah antara Yogyakarta dengan Ayutthaya adalah :

  1. Lokasi pusat kota Yogyakarta dipilih berdasarkan kosmologi Jawa untuk mewakili replika alam semesta (mikrokosmos)
  2. Perencanaan pusat kota ini dirancang oleh Sultan pertama Yogyakarta untuk menandakan sifat kehidupan manusia.
  3. Konsep filosofis yang mendasari kota bersejarah adalah produk dari proses asimilasi panjang dari kearifan lokal yaitu Hindu dan Islam. Ternyata, pusat kota bersejarah Yogyakarta merupakan satu-satunya kota bersejarah yang mewujudkan pemikiran filosofis tentang sifat kehidupan manusia di dunia.

 Filosofi tersebut menjadi dasar yang kuat berlandaskan sistem religi, kebudayaan, sosial dan interaksi antar ketiga sistem. DIY juga memiliki aspek keunggulan khas dari sisi kebudayaan yang sudah diakui secara nasional dan tercantum dalam Undang-undang Keistimewaan DIY.

Yogyakarta merupakan Ibukota Provinsi dari Daerah Istimewa Yogyakarta yang merupakan salah satu dari 33 provinsi yang ada di Indonesia. Yogyakarta sebuah kota yang kaya predikat, baik berasal dari sejarah maupun potensi yang ada, seperti sebagai kota perjuangan, kota kebudayaan, kota pelajar, dan kota pariwisata. Menurut Babad Gianti, Yogyakarta atau Ngayogyakarta (Bahasa Jawa) adalah nama yang diberikan Paku Buwono II (Raja Mataram tahun 1719-1727) sebagai pengganti nama pesanggrahan Gartitawati. Yogyakarta berarti Yogya yang kerta, Yogya yang makmur, sedangkan Ngayogyakarta Hadiningrat berarti Yogya yang makmur dan paling utama. Sumber lain mengatakan, nama Yogyakarta diambil dari nama (ibu) kota Sanskrit Ayodhya dalam cerita Ramayana. Dalam penggunaannya sehari-hari, Yogyakarta lazim diucapkan Jogja(karta) atau Ngayogyakarta (Bahasa Jawa)[1].

Keistimewaan Yogyakarta tidak hanya dilihat dari sudut pandang politik dan pemerintah, namun juga aspek-aspek sosial-budaya yang bermuara di Keraton Yogyakarta. Keraton Yogyakarta adalah simbol budaya adiluhung Jawa. Hingga kini, keraton yang berdiri dua setengah abad yang lalu itu masih menjadi acuan kultural masyarakat di DIY dan sebagian Jawa Tengah. Keberadaan Keraton sangat mendukung perkembangan seni dan budaya yang merupakan bagian tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Yogyakarta. Bagi masyarakat Yogyakarta, setiap tahapan kehidupan mempunyai arti tersendiri, tradisi adalah sebuah hal yang penting dan masih dilaksanakan sampai saat ini. Tradisi juga pasti tidak lepas dari kesenian yang disajikan dalam upacara-upacara tradisi tersebut. Inilah yang mendorong terwujudnya Yogyakarta sebagai kota pariwisata dan budaya[2].

Penetapan Yogyakarta sebagai City of Philosophy bertujuan untuk melestarikan nilai luhur yang dapat diwariskan kepada masyarakat Yogyakarta, bangsa Indonesia dan dunia. Salah satunya dengan menjadikan Yogyakarta sebagai Warisan Budaya Dunia (World Heritage). Yogyakarta memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menjadi Kota Warisan Dunia. Yogyakarta memiliki kekhasan serta keistimewaan dalam penataan kota yang didasari sumbu filosofi Keraton Yogyakarta, yakni Tugu Golong Gilig/Pal Putih – Keraton – Panggung Krapyak. Nilai filosofis dari Panggung Krapyak ke utara melambangkan perjalanan manusia sejak dilahirkan hingga tewas, menikah dan melahirkan anak. Sedangkan dari Tugu Golong Gilig ke selatan memiliki lambang perjalanan manusia untuk menghadap kepada Tuhan YME.

Saat ini Kota Yogyakarta telah masuk pada daftar Tentative List di UNESCO. Nilai-nilai yang menjadi kriteria Outstanding Universal Value diantaranya adalah[3] :

a.       Merupakan mahakarya serta kreativitas manusia yang mencerminkan perencanaan pusat kota dengan menggambarkan siklus hidup manusia, mulai dari awal kehidupan sampai dengan kembali ke Tuhan.

b.      Perencanaan pusat kota yang dirancang berdasarkan filosofi Jawa yang merupakan produk dari interaksi budaya yang panjang antara budaya asli dan peradaban lainnya terutama Hindu dan Islam.

c.       Komponen utama dari Yogyakarta sebagai Kota Sejarah secara nyata adalah dengan mewujudkan kosmologi Jawa dan kepercayaan tradisional mengenai sifat-sifat kehidupan manusia, diantaranya sangkan paraning dumadi, manunggaling kawula Gusti dan hamemayu hayuning bawana.

Selain Yogyakarta, salah satu kota di Thailand yaitu Kota Ayutthaya juga memenuhi kriteria dari UNESCO menjadi Kota Warisan Dunia. Pada saat ini kota tersebut menarik perhatian banyak wisatawan dari penjuru dunia untuk mengagumi reruntuhan dan patung batu Buddha di Ayutthaya, yang pernah menjadi salah satu ibukota kuno Thailand, yang pada saat itu dikenal dengan nama Siam. Ayutthaya sama halnya dengan Yogyakarta di mana bertebaran candi-candi peninggalan sejarah. Orang-orangnya ramah dan memiliki kehidupan yang santun.[4]


[2]Ibid.

[3] http://whc.unesco.org/en/tentativelists/6206/(diakses tanggal 12 Juni 2017 pukul 15.00 WIB)