DI Yogyakarta Andalkan Sektor Ekonomi Kreatif dan Pariwisata

Penelitian Pariwisata | RIPPDA | Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah -Potensi ekonomi kreatif dan pariwisata di DI Yogyakarta sangat  menjanjikan. Pasalnya, dengan lahan yang terbatas, yang tidak mungkin untuk memperluas lahan pertanian dan perkebunan, sector ekonomi kreatif dan pariwisata dapat diandalkan sebagai penggerak roda perekonomian di DI Yogyakarta. Propinsi DI Yogyakarta, kata Didik Purwadi, Asisten Sekda Bidang Perekonomian dan Pembangunan DIY Potensial dalam mengembangkan sector ekonomi kreatif dan pariwisata. Selama ini DI Yogyakarta dikenal sebagai kota budaya, kota pendidikan, dan kota pariwisata.

Membicarakan sector ekonomi kreatif, banyak produk yang dihasilkan di DI Yogyakarta, dari mulai barang-barang kerajinan, produk inovasi pangan, hingga pruduk kreatif yang berbasis ilmu teknologi. Dalam kelembagaan, ekonomi kreatif diurusi oleh berbagai dinas, seperti dinas pariwisata, dinas kebudayaan, ataupun dinas perindustrian, perdagangan, dan
koperasi.

“Dalam kebijakan-kebijakan gubernur pun sangat konsen kepada para pelaku ekonomi kreatif,â€? kata dia ketika ditemui di ruangannya di Kompleks Kepatihan, Rabu (13/8).  Pembinaan-pembinaan terhadap para pelaku ekonomi kreatif ada di bawah dinas-dinas terkait.

Ia mengatakan, peran ekonomi kreatif bagi DI Yogyakarta sangat besar. Sebagai contoh yang paling mudah, urat nadi Malioboro adalah barang-barang kerajinan yang dihasilkan dari ekonomi kreatif.

Sama dengan ekonomi kreatif, sector pariwisata juga menunjukkan potensi yang menjanjikan. Dari data yang ada, dari target wisatawan Nusantara pada 2013 sebesar 2,1 juta, realisasinya yang tercapati jauh lebih banyak dari itu mencapai 2,6 juta wisatawan. Padahal, target wisatawan 2015 hanya 2,3 juta wisatawan.

Sama dengan wisatawan nusantara, kunjungan wisatawan mancanegara juga mengalami lonjakan yang signifikan. Dari target kunjungan sebanyak 212 ribuan pada 2013, realisasinya mencapai 235 ribuan wisatawan.

“Jumlah wisatawan yang berkunjung ke DI Yogyakarta telah melampaui target sampai 2015,â€? kata dia. Target kunjungan wisatawan ke DI Yogyakarta pada 2014 ini pun direvisi. Jika rencana sebelumnya wisatawan pada 2014 ditargetkan 2,2 juta, setelah direvisi target wisatawan pada 2015 naik menjadi 2,8 juta wisatawan.

Ia mengatakan, DI Yogyakarta memiliki berbagai jenis wisata yang bisa dikunjungi, dari wisata budaya, seperti Kraton Yogyakarta, wisata sejarah, seperti candi-candi, wisata edukasi, seperti kebun binatang dan Taman Pintar, hingga wisata alam, seperti pantai-pantai, gunung, dan goa-goa. Selain itu, Malioboro sebagai ikon wisata di Yogyakarta juga masih menjadi salah satu andalan.

Ia mengaku, dengan banyaknya wisatawan yang datang ke DI Yogyakarta, pihaknya masih mempunyai pekerjaan rumah agar jumlah wisatawan terus meningkat.Selain itu, pelaku pariwisata di DI Yogyakarta juga terus berusaha agar wisatawan lebih lama tinggal di DI Yogyakarta.

Upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisata, misalnya dengan menambah tempat destinasi wisata,meningkatkan kemampuan sumber daya manusia pelaku pariwisata, hingga mambuat rekayasa lalu lintas agar jalan tidak macet. Menurutnya, pariwisata itu sebenarnya sederhana, yaitu objek yang dikunjungi, biro perjalanan, akomodasi, kulliner, dan oleh-oleh.

“Tinggal itu semua harus dikembangkan secara komprehensif dan tersistem,” kata dia.

Secara khusus, untuk wisatawan mancanegara, kendala yang dihadapi dalam mengembangkan pariwisata di DI Yogyakarta, misalnya, mindset wisatawan terutama dari luar negeri yang masih menganggap DI Yogyakarta hanya sebagai bonus setelah mereka datang ke Bali.

Mindset tersebut ada tidak lepas dari minimnya penerbangan luar negeri yang langsung ke Yogyakarta.

Untuk itu, keberadaan bandara yang lebih memadai dari bandara yang ada sekarang dinilai sebagai hal yang sangat penting bagi perkembangan pariwisata di DI Yogyakarta. Dengan rencana pembangunan bandara yang lebih besar di Kabupaten Kulonprogo, diharapkan akan banyak maskapai penerbangan yang membuka rute penerbangan langsung DI Yogyakarta ke luar negeri.

“Kunjungan wisatawan dari luar negeri masih banyak berasal dari Negara-negara Asia, seperti Malaysia, Singapura, Jepang, dan Cina,” kata dia.

Ia mengaku, pemerintah dan pelaku pariwisata terus berusaha menarik wisatawan mancanegara agar semakin banyak yang berkunjung ke DI Yogyakarta.

Wisatawan asal China menjadi salah satu yang menjadi target utama bagi industri pariwisata di DIY. Dari dampak kerusuhan di Thailand beberapa waktu yang lalu, banyak wisatawan manca Negara yang datang ke Yogyakarta.  “Dari sekitar 12 persen limpahan wisatawan yang mengalihkan kunjungan ke Indonesia, yang masuk ke Yogyakarta sekitar 6 persen,” kata dia. Ia mengaku, dari sisi pendapatan asli daerah, pendapatan dari pajak kendaraan bermotor memang masih lebih tinggi daripada pendapatan dari sector ekonomi kreatif dan pariwisata. Namun, kontribusi kedua sektor terakhir tersebut bagi DI Yogyakarta tidak bisa dinafikkan. Pasalnya, baik ekonomi kreatif dan pariwisata, sama-sama berkontribusi dalam hal
penyediaan lapangan pekerjaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *